Harga Emas Dunia Ambruk 2,5% ke US$4.180,49, Emas Antam Turun Rp16.000 per Gram

Oleh Teramine EditorialDiterbitkan 28 September 20265 menit bacaPerusahaan: PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM); Federal Reserve

Harga emas anjlok lebih dari 2% dalam hitungan jam pada Senin (28/9/2026), dengan harga spot US$4.180,49 per troy ons menurut Refinitiv. Kenaikan harga minyak dan ekspektasi suku bunga The Fed menekan logam mulia; di dalam negeri emas Antam turun Rp16.000 menjadi Rp2.597.000 per gram.

Harga emas dunia anjlok lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin, 28 September 2026. Merujuk Refinitiv, CNBC Indonesia mencatat harga emas pada pukul 13.00 WIB berada di US$4.180,49 per troy ons, atau ambruk 2,5 persen dalam hitungan jam sejak dibuka pada pagi hari.

Pada hari yang sama, harga emas Antam yang dijual melalui kanal Logam Mulia turun Rp16.000 per gram menjadi Rp2.597.000 per gram untuk ukuran 1 gram, sementara harga *buyback*-nya juga turun Rp16.000 menjadi Rp2.422.000 per gram.

Dua Angka dalam Satu Laporan

Judul laporan CNBC Indonesia pukul 13.02 WIB menyebut emas jatuh "ke US$ 4100", sedangkan badan laporan yang sama mengutip Refinitiv pada posisi US$4.180,49 per troy ons. Kami memakai angka badan laporan karena itu angka yang disebutkan dengan sumber datanya, dan mencatat adanya perbedaan itu apa adanya.

Pemicu yang Disebut Laporan Itu

CNBC Indonesia mengaitkan penurunan ini dengan kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan kembali menaikkan suku bunga.

"Kombinasi imbal hasil obligasi yang tinggi dan harga minyak yang mahal terus menjadi batu sandungan bagi emas. Harga minyak naik di tengah sinyal yang beragam mengenai aliran pasokan minyak, sehingga inflasi tetap menjadi perhatian utama investor."

Kutipan itu disampaikan Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, kepada Reuters dan dimuat CNBC Indonesia pada 28 September 2026. Kami mengutipnya dari laporan tersebut, bukan langsung dari Reuters.

Latar geopolitiknya, menurut laporan yang sama: Iran menegaskan bahwa hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konfliknya dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri pertempuran. Harga minyak bergerak naik.

Laporan itu juga menjelaskan mekanismenya tanpa menyimpulkan arah: harga energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dengan menaikkan biaya di berbagai sektor, dan emas secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi — tetapi lingkungan suku bunga tinggi menaikkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Suku Bunga dan Zona Pertahanan US$4.200–4.300

Koreksi ini berlangsung di atas kebijakan yang sudah diambil. Dalam laporan pagi hari yang sama, CNBC Indonesia menulis The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% pada 16 September 2026 — kenaikan pertama sejak 2023 — dan memberi sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan tahun ini.

Menurut CME FedWatch Tool yang dikutip laporan pukul 13.02 WIB, pelaku pasar memperhitungkan peluang 68 persen The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Empat hari sebelumnya, laporan CNBC Indonesia 26 September 2026 mengutip alat yang sama dengan peluang 64 persen untuk Oktober dan 93 persen untuk Desember. Kedua angka itu kami cantumkan dengan tanggalnya masing-masing dan tidak kami satukan.

Laporan pagi 28 September juga mencatat bahwa dalam tiga pekan sebelumnya tekanan jual belum mampu mendorong harga turun lebih dalam, dan menyebut zona US$4.200–US$4.300 sebagai area pertahanan penting bagi pembeli. Harga US$4.180,49 yang dicatat pukul 13.00 WIB berada di bawah zona itu.

Garis Waktu Harga Pekan Ini

WaktuHarga emas (per troy ons)KeteranganSumber
Jumat, 25 Sep 2026 (penutupan)US$4.286,25naik 0,19% harian; turun 2,07% sepekanRefinitiv, via CNBC Indonesia
Senin, 28 Sep 2026, pagizona US$4.200–4.300 disebut sebagai area pertahanan pembeliUS$4.200–4.300 (level acuan, bukan harga transaksi)CNBC Indonesia
Senin, 28 Sep 2026, 13.00 WIBUS$4.180,49ambruk 2,5% dalam hitungan jam sejak dibuka pagiRefinitiv, via CNBC Indonesia

Data yang Ditunggu Sepekan Ini

Laporan 28 September menyebut investor mencermati serangkaian data pasar tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat pekan ini: lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks harga *Personal Consumption Expenditures* (PCE), serta data *nonfarm payrolls*.

"Data inflasi atau ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat mempertahankan tekanan kenaikan pada imbal hasil obligasi dan semakin membebani harga emas."

Kutipan itu juga dari Tim Waterer kepada Reuters melalui CNBC Indonesia.

Dari laporan pagi hari yang sama: inflasi Amerika Serikat masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen, dengan inflasi CPI Agustus tercatat 3,4 persen secara tahunan dan inflasi inti 2,4 persen. Laporan itu menyebut inflasi PCE yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendongkrak dolar AS dan imbal hasil obligasi sekaligus menekan emas, sedangkan inflasi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan. Laporan itu juga menyebut pekan perdagangan berlangsung lebih pendek akibat libur.

Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, pada Jumat mengatakan dirinya khawatir inflasi yang terus tinggi berisiko membuat masyarakat AS terbiasa menerima harga-harga mahal sebagai kondisi normal, dan menambahkan bahwa bank sentral tidak boleh membiarkan hal itu terjadi — dikutip CNBC Indonesia pada 28 September 2026.

Sebagai pembanding di pasar logam mulia lain, laporan pagi itu juga mencatat harga perak pada 25 September 2026 di posisi US$64,21 per troy ons (naik 0,59 persen harian, turun 2,95 persen sepekan), juga merujuk Refinitiv.

Sisi Indonesia: Emas Antam Turun Rp16.000

Pada Senin, 28 September 2026 pukul 09.35 WIB, CNBC Indonesia melaporkan harga emas Antam ukuran 1 gram turun Rp16.000 menjadi Rp2.597.000 per gram, mengutip situs resmi Logam Mulia. Laporan itu menyebut penurunan ini terjadi setelah harga emas Antam bertahan di level Rp2,6 juta per gram selama perdagangan akhir pekan lalu.

ItemAngkaKeterangan
Emas Antam 1 gramRp2.597.000turun Rp16.000 dari perdagangan sebelumnya
Harga *buyback* AntamRp2.422.000turun Rp16.000 dari perdagangan sebelumnya
PPh Pasal 22 transaksi *buyback* di atas Rp10 juta1,5% (pemilik NPWP); 3% (non-NPWP)dipotong langsung dari total nilai transaksi

Ketiga butir di tabel itu berasal dari laporan CNBC Indonesia 28 September 2026 yang mengutip situs resmi Logam Mulia. Harga ritel dalam rupiah dan harga spot dalam dolar AS tidak sebanding secara langsung; keduanya kami tampilkan sebagai dua angka terpisah.

Apa Artinya bagi Pembaca

  • Bagi pemegang emas fisik, angka yang berlaku saat menjual adalah harga *buyback*, bukan harga spot global. Pada 28 September 2026 harga *buyback* Antam dilaporkan Rp2.422.000 per gram.
  • Bagi yang bertransaksi dalam jumlah besar, transaksi *buyback* di atas Rp10 juta dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemilik NPWP dan 3 persen bagi non-NPWP, dipotong langsung dari nilai transaksi — sehingga hasil bersih tidak sama dengan harga *buyback* dikalikan berat.
  • Bagi investor, yang bergerak pada Senin bukan produksi atau pasokan, melainkan biaya uang: ekspektasi suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi. Emas turun justru di tengah kekhawatiran inflasi.
  • Bagi pelaku usaha komoditas, arah harga sepekan ini bergantung pada data AS yang dijadwalkan rilis: PCE dan data tenaga kerja. Laporan yang kami baca tidak memuat proyeksi arah, sehingga kami tidak mencantumkan proyeksi.

Perkembangan harga global dan harga ritel domestik pekan sebelumnya kami bahas di artikel [Harga Emas Dunia Turun 2% Sepekan, Tertekan Suku Bunga The Fed](/id/news/harga-emas-dunia-turun-2-persen-sepekan-fed) dan [Harga Emas Antam Naik Rp23.000 Jadi Rp2.613.000 per Gram](/id/news/harga-emas-antam-logam-mulia-dan-pegadaian). Pihak yang mencari mitra proyek atau peluang investasi di sektor tambang dapat melihat daftar di [Marketplace](/id/marketplace).

Catatan Teramine

Bagian Catatan Teramine ini adalah analisis editorial kami, bukan pernyataan fakta dan bukan kutipan dari sumber mana pun.

Yang layak dicatat dari pergerakan Senin ini bukan besarnya penurunan harian, melainkan bahwa penurunan itu terjadi pada hari yang sama ketika satu laporan menyebut zona US$4.200–4.300 sebagai area pertahanan pembeli. Zona harga adalah pernyataan tentang di mana permintaan diperkirakan muncul; ketika harga lewat di bawahnya dalam hitungan jam, pertanyaan berikutnya bukan lagi soal level, melainkan soal apakah yang berubah adalah biaya memegang aset — dan pada laporan yang sama, jawabannya mengarah ke sana: imbal hasil obligasi, harga minyak, dan peluang kenaikan suku bunga 68 persen menurut pasar.

Bagi kami, ada satu pola yang berulang di beberapa laporan terakhir dan tetap perlu diperhatikan: emas turun di tengah kekhawatiran inflasi. Itu bukan anomali, melainkan pengingat bahwa dalam kerangka kebijakan yang mengetat, yang dihargai pasar adalah bunga, bukan lindung nilai. Bagi pelaku usaha tambang emas, konsekuensinya praktis — harga jual mengikuti pasar global harian, sedangkan rencana kerja dan anggaran disusun tahunan. Selisih antara dua ritme itu adalah risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan memperbaiki asumsi harga, hanya dikelola.

Kami juga menilai perbandingan 64 persen (26 September) dan 68 persen (28 September) lebih layak diperhatikan daripada salah satu angkanya sendiri: yang berubah bukan arah kebijakan, melainkan keyakinan pasar terhadapnya — dan keyakinan itulah yang bergerak cepat, sementara dampaknya ke produksi di dalam negeri bergerak lambat.

Yang Tidak Dapat Kami Verifikasi

  • Harga spot dari sumber independen. Ketiga laporan yang kami buka berasal dari CNBC Indonesia dan mengutip Refinitiv atau situs Logam Mulia. Alat pencarian web kami tidak dapat dipakai pada proses ini, sehingga kami tidak berhasil membuka laporan penerbit lain yang memuat angka pembanding pada jam yang sama. Angka dalam artikel ini karena itu merujuk pada satu rangkaian pemberitaan, bukan pada dua sumber yang saling bebas.
  • Selisih judul dan badan laporan. Laporan pukul 13.02 WIB menulis "US$ 4100" di judul dan US$4.180,49 di badan. Kami tidak dapat memastikan apakah judul itu pembulatan atau mengacu pada level taruhan tertentu.
  • Angka FedWatch yang berbeda. 64 persen (26 September) dan 68 persen (28 September) berasal dari dua laporan yang sama-sama mengutip CME FedWatch Tool. Kami tidak menemukan penjelasan atas perbedaan itu dan tidak meratakannya.
  • Harga minyak, dolar AS, dan imbal hasil obligasi. Ketiganya disebut laporan sebagai faktor penekan tanpa angka yang dirinci, sehingga tidak kami cantumkan nilainya.
  • Dokumen kebijakan The Fed. Tanggal dan besaran kenaikan suku bunga kami sebut berdasarkan pemberitaan CNBC Indonesia, bukan setelah membaca dokumen resmi The Fed.

Sumber

Artikel ini disusun dari tiga laporan CNBC Indonesia yang dibuka dan dibaca seluruhnya. Setiap angka dan kutipan diambil apa adanya dari halaman di bawah; tidak ada angka yang kami taksir atau lengkapi sendiri.

Sumber & Referensi

Mengutip laporan CNBC Indonesia — "Breaking! Harga Emas Ambruk: Jatuh 2,5% dalam Hitungan Jam ke US$ 4100", 28 September 2026, 13.02 WIB (harga emas US$4.180,49 per troy ons pada pukul 13.00 WIB menurut Refinitiv, ambruk 2,5 persen dalam hitungan jam; kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi; kutipan Tim Waterer, kepala analis pasar KCM Trade, kepada Reuters soal imbal hasil obligasi dan harga minyak, serta soal dampak data inflasi dan tenaga kerja; pernyataan Iran bahwa hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konflik dengan AS dan Israel dan penolakan Presiden AS Donald Trump atas proposal pembukaan Selat Hormuz; The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75%-4 persen; peluang 68 persen kenaikan berikutnya pada Oktober menurut CME FedWatch Tool; data lowongan pekerjaan, ADP, PCE, dan nonfarm payrolls; pernyataan Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack pada Jumat), …

  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Artikel ini disusun ulang dengan konteks dan data tambahan. Sumber asli dicantumkan untuk transparansi.

Harga EmasEmas AntamThe FedSuku BungaRefinitivCommodity Update
Bagikan

Peluang Tambang Terkait

Proyek tambang yang sedang ditawarkan di Teramine untuk komoditas ini.

Lihat Peluang Tambang

Mencari peluang investasi tambang di Indonesia?

Lihat proyek IUP yang tersedia untuk take over, joint operation, dan joint venture di Teramine.

Explore Mining Opportunities

Punya aset atau proyek tambang?

Publikasikan peluang tambang Anda kepada investor dan jaringan Teramine.

Submit Mining Opportunity

Layanan Terkait

Ada Pertanyaan?

Konsultasi gratis dengan tim ahli kami

Hubungi Kami